Cari Blog Ini

Minggu, 26 Agustus 2012

Manusia Langka


Ini aku bukan kamu
dia ataupun mereka
Aku hanyalah aku
Diampun berbeda dengan kamu
Seujung kukupun takkan sama
Fatamorgana gurun sahara
Senyum yg tersirat
menyongsong mentari
kadang tersapu angin kemarau
hanya bertabur sepi duniawi
Cercah cahaya surya
Itu yang kunanti
Lambaian nyiur di tepi pantai
Mengentas keharuan dalam kelam
Meramu binar-binar kehidupan
Semoga tiada jurang terjal
Yang kan meraja mimpi
Tentang keindahan
Akulah manusia langka
Yang takkan pernah terpajang
Dalam musium
by: Khusmatul Khotimah

Selasa, 10 Juli 2012

Lentera Hati



apa jadinya hidup ini tanpa Mu
ketika asa menyelimuti kalbu
ketika gundah tak jemu bersarang
ketika ego membumbung tinggi
ketika putih menjadi suram
ketika semua tak mampu melangkah kemana
ketika tak ada lagi jalan untuk pulang
ketika semu menampakkan wajahnya


apa jadinya tanpa Mu
setitik cahya terang
merasuk sukma
memberi warna
berbaur dalam aliran nadi
menyelimuti sajak sajak di hati
walau asa menghadang
walau bimbang meraja
walau keraguan selalu datang
hanya Kau Lentera Hati
penyembuh segala lara
pengobat semua duka
Engkaulah Maha dari segala maha
Alloh SWT
Sang Pencipta alam semesta





Minggu, 24 Juni 2012

Seleksi...........

Apa yang anda fikirkan bila mendengar kata seleksi, menyeleksi atau diseleksi? ya dalam hal ini semua pasti pernah merasakan bagaimana proses seleksi. Seleksi adalah memilih itu ari harfiah secara gamblang yg mudah dimengerti oleh orang awam seperti kita. Menyeleksi adalah bagaimana kita mencari memilih hal-hal yang kita inginkan sesuai kehendak hati , ya bagi kaum cewe ketika anda jalan-jalan ke sebuah pusat perbelanjaan anda pasti sibuk lirik sana lirik sini pilih sana-sini mencoba berbagai gaun yang anda taksir apakah muat dan cocok dengan selera anda.
Bagi kita yang edang mencari sebuah perguruan tinggi atau bagi yang sedang mencari sekolah faforit untuk meneruskan jenjang pendidikannya, saat ini sangat merasakan proes seleksi di instansi tersebut. Apalagi bagi anda anda yg masih dalam pecarian kerja.... selski sungguh menantang, bagaimana kita bersaing dengan para pencarikerja. Dalam pemuliaan tanaman seleski dilakukan untuk memperoleh klon, dan varietas yang baik secara genetik dan lingkungan karena tujuan dalam program pemuliaan tanaman didasarkan pada strategi jangka panjang untuk mengantisipasi berbagai perubahan arah konsumen dan keadaan lingkungan. (baca http://id.wikipedia.org/wiki/Pem) Heem bagi temen-temen yang sedang mencari pasangan hidup coba baca dech http://www.dycko-novanda.com/2012/06/cinta-itu-less-talk agar anda dapat menentukan apakah dia benar2 cinta apa hanya cinta dimulut hehehehehe...

Selasa, 03 April 2012

Skrining tanaman terhadap cekaman.......

Bulan lalu kita sudah membahas bagaimana cara seorang Pemuliaa bekerja di bidangnya, ternyata begitu ribet pemirsa. sebenarnya ada cara untuk mempersingkat waktu seorang pemuliaa bekerja...salah satunya dengan kultur jaringan Sob.
Kultur jaringan merupakan cara untuk memperbanyak tanaman dengan cara mengisolasi bagian dari jaringan, atau sel dalam keadaan aseptik agar berkembang menjadi tanaman lengkap. Untuk yang satu ini bukan jaringan semabarang jaingan yang kita ambil. Orang yang akan bermain kultur harus memilih jaringan yang meristematis, yaitu yang masih aktif membelah. Kultur jaringan dapat digunakan untuk melakukan skrining, yaitu memilih dan memilah tanaman yang belum kita ketahui ketahanannya.......
mungkin anda agak penasaran bagaimana sich cara kerjanya?????? yup mari kita simak... misalnya kita ingin mengetahui suatu galur padi, kedelai, jagung atau galur-galur lain yang ada dalam tahap pengujian apakah tahan terhadap tanah masam atau tidak........
Seperti kultur jaringan tanaman kebanyakan, hal pertama yang sangat penting diperhatikan adalah keadaan aseptik. semua alat, media, LAF, ruang kultur, dan orang yang bermain kultur harus steril. Disini saya tidak akan bercerita panjang lebar mengenai bagaimana cara menjadikan  alat, media, LAF, ruang kultur, serta yang lagi melakukan kultur sterilll...saya anggap semua sudah tahu :) :) :) :) dalam permainan ini kita akan bermain media tumbuh....sangat amat mirip sekali dengan percobaan lapang, kita siapkan media tumbuh yang normal sebagai cek dengan konsentrasi semua zat mikro dan makro seimbang sesuai kebutuhan tanaman pada umumnya. Masih menyiapkan media tumbuh yang kedua kita siapkan media plus  konsentarasi Al yang lebih tinggi, mungkin dengan beberapa konsentrasi dengan reng yang berbeda agar kita tau pada konsentrasi berapa tanaman tersebut masih tahan. BDW--- kenapa harus kita tambah Al ? yup kita harus tambah konsentarasi Al karena kebanyakan di tanah masam permasalahan utama adalah Al. Hampir semua tanah masam keracunan Al.  umumnya pada pH kurang dari 5,5 ketersediaan unsur kalsium (Ca) dan fosfor (P) rendah dan akan muncul masalah keracunan Al. Pada pH 3,5-4,5 sumber utama kemasaman adalah Aldd (Al3+ yang dapat ditukar). Menurut Widjaja (1985), sumber kemasaman terdiri dari Aldd, ion hidroksida dan Hdd. Al terutama ditemukan dalam bentuk oktahedral hexahidrat (Al (H2O)63+) yang secara konvensional dikenal sebagai ion Al3+ dan sangat berbahaya bagi pertumbuhan akar dan tanaman.
Semua galur kita tanam pada media tersebut, setelah itu amati perkembangannya. Jika beberapa hari kemuadia ada tanaman yang mati, maka dapat disimpulkan baha galur tersebut tidak tahan terhadap Al, namun jika beberapa hari berikutnya planlet tersebut berkembang menjadi kalus dan tumbuh tunas maka dapat disimpulkan tahan terhadap cekaman Al.......So apakah langkah selanjutnya? langkah selanjutnya adalah uji lapang. Uji semua galur yang tahan di lapang, bagaimana adaptasinya....selanjutnya anda saya anggap tau apa yang harus dilakukan hehehehehe.........Oke Pemirsa begitulah kira-kira fungsi kultur jaringan tanaman, untuk menyingkat waktu seleksi...........

Jumat, 02 Maret 2012

Beginilah Tugas Pemuliaan…..


Assalamualaikum Sobat semua
…………tut tut tut denglung teplok…hemmm sms masuk Sob, saat q baca betapa tertegunnya. Sms say heloo sore buta, bukan menanyakan kabar, bukan menanyakan gossip atau ucapan selamat sore, ini hampir mirip dengan sms pagi buta yang pernah aq terima, syok’n bukan main bayangkanlah pagi-pagi harus jawab pertanyaan ujian skripsi, Mb apa beda’n padi rawa, padi pasang surut, sama padi salinitas?”,….ahaiiiii tapi bukan itu,…..isi sms menanyakan,”Mb, kalo mau merakit padi umur genjah, tahan hpt, produksi tinggi, rasa nasi pulen, tetua betina ama tetua jantannya gimana?”…….Ntar dulu yeee ana pikir-pikir dulu….Jika dibalas via SMS ga mungkin sekali balas, mo dibalas via wall Facebook, or Twitter mana selesai ahaiiiii mo balas via email lama koneksi gagal mulu ckckckckckck nasib hidup di kota pakistan (Pantai kisik Selatan)….maklumlah zaman udah bukan zaman batu, atau zaman kentongan Sob yang harus ketemuan tatap muka baru bisa bicara empat mata hehehe ^_^ sekarang dah ada YM, Skype, dan banyak media social lain’n ya ga hehehe…….sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui……mantap bukan main….ngeblog aja “ikan teri dalam lemari yookkk mariiii,’……………..
Capcus mari mulai serius kawan…
Sebuah perakitan varietas merupakan proyek besar yang membutuhkan banyak ahli baik di lapang maupun di laboratorium membutuhkan pemikiran yang mendalam jelasnya…..
Poin 1). Mari kita kumpulkan sebanyak-banyaknya kultivar (varietas padi yang sudah dibudidayakan oleh petani) padi yang ada disekitar kita Sob,….kita bisa ambil dari plasmanutfah yang sudah ada yang berasal dari kultivar lokal, varietas-varietas baru yang lagi ngetren di petani, dan kultivar-kultivar hasil introduksi dari Negara tetangga atau Negara sorada jauh atau mungkin negeri sebrang entahlah yg jelas dari luar gitu…….
Poin 2). Udah dapet kutivar’n yook kita seleksi kultivar mana yg cocok dijadiin tetua, so liatlah sifat’n dari deskripsi varietas saat baru dilepas Sob…..menjawab sms di atas berarti kita butuh kultivar dengan sifat-sifat tersebut….. misalkan saja kita dapat dua kultivar dengan sifat  (1) umur genjah, produksi rendah, tahan hpt, dan pulen yang ke (2) umur dalam, produksi tinggi, tidak tahan hpt, pera. Ko milih’n nga satu aja??? Yoi Sob soal’n nga semua varietas itu satu paket hemat,,,,komplit-plit lahir batin….pasti ada lah kekurangan dan kelebihan’n…so itulah tugas pemuliaan menjadikan’n paket hemat dan tentunya dengan rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa dan atas rido-NYA…
Poin 3). Sekarang kita tentuin dari kultivar tersebut mana yg akan dijadiin tetua betina dan tetua jantan, untuk nentuin’n kita gunakan ilmu genetika sel ahaiiii….jika suatu sifat yg kita inginkan berada di dalam inti atau di luar inti (sitoplasmik)…pertanyaan’n bagaimana cara menentukan’n ??? lakukan saja persilangan secara resiprok…begini cara’n lakukanlah dua tipe persilangan misal yg kia sediakan kultivar A dan kultivar B ….kita lakukan persilangan 1). Kultivar A dijadikan tetua betina dan kultivar B dijadikan tetua jantan  dan tipe 2). Kita balik aja kultivar B kita jadikan tetua betina dan kultivar A dijadikan tetua jantan.  Jika hasil persilangan tersebut sama, maka sifat tersebut berada di dalam inti,…jika tidak maka berada di luar inti (yang tertarik silahkan belajar Sitogenetik or Genetika Sel)……
Poin 4). Marilah mulai melakukan hibridisasi-à langkah-langkah hibridisasi dapat dibaca pada buku pengantar pemuliaan tanaman (maaf ga begitu hafal ahaiiiii ketauan bodoh’n ana jelas’n ada kartasi, emaskulasi hibridisasi dkk.)….hasil persilangan pertama merupakan biji F1 (F= Filial=Keturunan) biji F1 ditanam menjadi tanaman F1 yang kemudian menghasilkan biji F2 dan begitu seterus’n tanaman F2 menghasilkan biji F3….
Poin 5). Disini kita sudah mulai memikirkan bagaimana cara menyeleksi sifat yang kiata butuhkan….. jika suatu sifat dipengaruhi oleh banyak gen (poligenik) maka sifat tersebut diseleksi pada generasi akhir (F7) karena jika diseleksi pada generasi awal ada kemungkinan masih ada perubahan sifat (segregasi)…jika suatu sifat dipengaruhi oleh satu gen (monogenik) maka seleksi sifat tersebut dilakukan pada generasi awal  oke…….O-y pengaruh poligenik atau monogenic pada suatu sifat dapat menentukan langkah seleksi juga loh mo pake Bluk, Pedigree, Back kross dll……
Poin 6). Hemmm sekarang masuk ke point-point penting sebelum pelepasan menjadi varietas….generasi F7 dimungkinkan sudah stabil gen’n jadi dimungkinkan sudah tidak ada segregasi, namun stabil genetik belum tentu stabil lingkungan karena sifat tanaman dipengaruhi oleh faktor geneti faktor lingkungan dan interaksi antara faktor genetik dengan faktor lingkungan…so harus dilakukan UML (Uji Multi Lokasi) untuk menguji kesabilan sifat genetik’n dengan lingkungan….UML dilakukan 8 x 2 musim tanam…sebelum’n dilakukan uji pendahuluan terlebih dahulu…..Menyambut pelepasan bukan hanya UML saja selanjutnya ada uji –uji lain ada UJI ketahanan terhadap HPT, Uji Rasa dan beberapa uji lain’n (Tanyakan kepada pakar perpadian (Prof Totok Agung D.H., M.P., Ph.D.) hehehe maaf bapak nama anda saya sebut )…..hasil persilangan ini setelah menempuh berbagai uji tidak serta merta langsung menjadi varietas loh…harus ada SK dari Menteri Pertanian terlebih dahulu (ceritanya diwisuda gitu)….baru dech resmi menjadi varietas baru……
Yahhh begitulah ribetnya seorang pemulia merakit sebuah varietas saja membutuhkan kurang lebih’n 5 tahun Sob, so jika anda makan sebutir nasi ingatlah dari mana nasi itu berasal ahaiiiiiii jadi inget petikan lirik lagu, “ Nasi putih terhidang di meja, dari manakah datangnya….na na na na terusin sendiri yee (sorry ga hafal lirik Sob). Pokok’n ingetlah selalu bagaimana ribet’n para pemulia tanaman merakit varietas tersebut, ingatlah setiap tetes keringat yang menganak sungai dari para petani–petani kita yang gigih mengolah lahan’n dan betah berjemur lama-lama di tengah teriknya matahari demi menghasilkan butiran gabah yang nantinya digiling di pengilingan menjadi beras dan ditanak oleh tangan-tangan halus penuh cinta ibu-ibu kita Sob,,,,dan sampailah keperut kalian yang keroncongan nagih makan……
________nga akan berbelit-belit panjang lebar lagi, sudah cukup sekian dan terimakasih Sob, ana yakin kalian pada binggung baca ini blog hehehe wassalamualaikum__________


Jumat, 10 Februari 2012

Foto

Ah ... hanya sebuah foto? mungkin itu yang terblesit dibenak mu. Taukah kamu sebuah foto memiliki banyak arti. Kadang, dari sebuah foto kamu dapat tersenyum, mengenang kembali aroma kegembiraan yang fress seperti mengunyah buah rambutan yang baru petik, manisnya pasti mengalahkan buah kelengkeng yang sudah lama teronggok di supermarket dan telah menempuh perjalanan berkilo-kilo jauhnya. Sebuah foto adalah penyimpan memory di luar otak manusia, seperti layaknya flasdis atau sebuah data eksternal yang selalu tergantung di leher para mahasiswa. Foto adalah pengingat bagi kita yang sudah lama tak melihat para sahabat yang jauh di rantau atau sebagai penginggat wajah-wajah jadul temen-temen satu tumpah darah saat duduk di bangku sekolah sebelum berangkat reunian....


Senin, 16 Januari 2012

terimaksih semua

 Langkah kaki ketika q bangun dari mimpi q....mewujudkan  segala angan dan cita q begitu berat. Begitu singkat waktu berputar, tak terasa semua tlah berubah. kini tiba waktunya aq lulus kuliah. Wisuda sungguh aneh terasa terdengar di telingga. subkhanalloh teriamaksih ya Robi, terimakasih mamah, bapak, sodara-sodara q semua, serta teman-teman. semoga semua ilmu yang aq peroleh berguna nantinya.......


Jumat, 18 November 2011

Terimakasih untuk semua pelajaran dan pengalaman yang berharga sobat



Yang Tak Terlupakan
Hal terindah dalam hidup adalah kebersamaan, saling memberi , dan berbagi, baik dalam suka maupun duka. Memastikan semua orang disekeliling nyaman atas semua tingkah laku maupun perkataan. Menjaga kesantunan dalam hidup dan tidak mementingkan ego, amarah, maupun rasa dendam.. Memberi senyuman dan tegur sapa tak akan membuat rugi kawan. Tertawa adalah obat mujarab mengatasi carut-marut kehidupan.  Kelembutan canda di tiap kesempatan kadang dapat merobohkan sombongnya gunung es di kutub kalbu yang  mendalam.  Kenangan putih takkan terhapus oleh zaman, akan selalu terukir dalam batu pualam.  Memincingkan arti sebuah kehidupan yang akan selalu terpaut dalam kenangan. Kisah terindah adalah cerita yang tak mungkin terlewatkan, disetiap kesempatan dalam atap-atap kehidupan. 

Sajak Kehidupan
Semburat merah di ufuk barat
Membawaku dalam serpihan malam
Ketika jangkrik memandang rembulan
Terkekeh-kekeh dalam balutan kelam
Kala mentari membuka mata
Senyum satwa dalam genggaman
Berdendang mencari sesuap nasi
Di antara kerikil tajam berliku
Langkah penuh harap
Dengan sejuta peluh menetes
Sungingan senyum sang patriot
Membajak tiap sawah-sawah kehidupan
Semakin berisi semakin merunduk
Semakin merunduk semakin bijak
Nikmat kehidupan
Hijaunya alam hijaunya kehidupan



Minggu, 16 Oktober 2011

bermain merangkai kata lagi dengan Puisi

Memeluk Asa
Sepi di antara raga duniawi
Tersenyum bak bebatuan
Sukma ingin berlenggang
Menata cakrawala kehidupan
Lubuk jiwa tergerus luka
Terpicing melotot berpadu
Kandas dalam materai
Menciut karena asa
Jiwa lara sungguh perih
Tertatih menikung kelabu tua
Jerit kalbu dalam sunyi
Meronta bak induk kehilangan cicit
Sukma jeruji jiwa
Memeluk samar masa lampau
Berkutat menabuh genderang
Menyungging senyum fatamorgana
Karya: Khusmatul Khotimah

Kamis, 13 Oktober 2011

Kreasi saya

Iseng-iseng mengusir kepenatan hidup hehehehe dan terbitlah sebuah coretan yang saya kira banyak sekali majas didalamnya..... mencoba berkreasi dalam sebuah puisi... selamat menikmati ...
Nyanyian Malam
Senja di ufuk barat
Meramu pesona jelita laswardi
Pelan berlahan tapi pasti
Temeram lampu hiasi setapak ini
Hingga semua terbuai mimpi
Belaian angin nan lembut
Berselimut dinginya malam
Damai sangat damai
Hanya irama makhluk malam
Mendendangkan lagu-lagu alam


Begitu indah
Andai dia datang mata ini tak mungkin terpejam
Menatapmu dengan berbinar
Melihatmu beralun tasbih
Memanjat memuji kebesaranNya
Cahaya kecil benderang
Terukir di cakrawala malam
Memetik sebuah keindahan
AnugrahMu Tuhan
Bintang di langit malam
Sungguh menakjubkan
Karya: Khusmatul Khotimah

Senin, 26 September 2011

Kasiat Suruhan...



Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: MagnoliidaeOrdo: Piperales
Famili: Piperaceae (suku sirih-sirihan)
Genus: Peperomia
Spesies: Peperomia pellucida (L.) H.B.K
Nama Lokal:
Rangu-rangu(Jawa), saladaan (Sunda), tumpangan air (Sumatera, Jakarta), gofu goroho (Ternate), ulasiman bato (Filipina), cao hu jiao (Cina).

Kandungan Kimia dan Efek Farmakologis:
Mengandung alkaloid, tanin, kalsium oksalat, lemak, dan minyak asiri. Bersifat pedas dan sejuk.
Penyakit yang dapat diobati:
Abses, bisul, jerawat, dan radang kulit, luka bakar dan terpukul, penyakit ginjal, dan sakit kepala.
Pemanfaatan:
1. Abses, bisul, jerawat, dan radang kulit
Bahan: 2 pohon tanaman segar ukuran kecil (tingginya 7-10 cm)
Cara membuat: bahan dicuci bersih, rebus dengan 3 gelas air hingga tersisa 2 gelas.
Cara menggunakan: diminum 2 kali sehari selagi hangat, masing-masing 1 gelas. Buang air sisa ramuan. Buat ramuan segar lagi setiap kali minum ramuan yang berikutnya.
2. Luka bakar dan terpukul
Bahan: tanaman segar secukupnya.
Cara membuat: bahan dicuci bersih, lalu dilumatkan.
Cara menggunakan: ditempelkan pada bagian yang sakit.
3. Penyakit ginjal
Bahan: tanaman segar ukuran kecil (tingginya 7-10 cm)
Cara membuat: bahan dicuci bersih, rebus dengan 3 gelas air hingga tersisa 2 gelas.
Cara menggunakan: diminum 2 kali sehari selagi hangat, masing-masing 1 gelas. Buang air sisa ramuan. Buat ramuan segar lagi setiap kali minum ramuan yang berikutnya.
4. Sakit kepala
Bahan: 15 lembar daun segar
Cara membuat: bahan dicuci bersih, dilumatkan hingga halus.
Cara menggunakan: tempelkan ramuan di pelipis
Cara lain:
Bahan: 2 pohon tanaman segar ukuran kecil (tingginya 7-10 cm)
Cara membuat: bahan dicuci bersih, rebus dengan 3 gelas air hingga tersisa 2 gelas.
Cara menggunakan: diminum 2 kali sehari selagi hangat, masing-masing 1 gelas. Buang air sisa ramuan. Buat ramuan segar lagi setiap kali minum ramuan yang berikutnya.

Senin, 19 September 2011

Kultur Jaringan Jati

Tanaman jati yang tumbuh di Indonesia, awalnya berasal dari India. Nama ilmiah Tectona gradis L. secara historis ” tectona” berasal dari bahasa Portugis ( tekton ) yang berarti tumbuhan yang mempunyai kualitas tinggi. Jati digolongkan sebagai kayu mewah ( fancy wood ) dan memiliki kelas awet yang tinggi yang tahan terhadap gangguan rayap serta jamur dan mampu bertahan sampai 500 tahun. Pohon Jati cocok tumbuh di daerah musim kering agak panjang yaitu berkisar 3-6 bulan pertahun. Besarnya curah hujan yang dibutuhkan rata-rata 1250-1300 mm/tahun dengan temperatur rata-rata tahunan 22-26° C. Daerah-daerah yang banyak ditumbuhi Jati umumnya tanah bertekstur sedang dengan pH netral hingga asam.
Kingdom         : Plantae
Divisi              : Spermatophyta
Kelas               : Angiospermae
Sub-kelas         : Dicotyledoneae
Ordo                : Verbenales
Famili              : Verbenaceae
Genus              : Tectona
Spesies            : Tectona grandis Linn.
Morfologis tanaman jati, memiliki tinggi yang dapat mencapai sekitar 30-45 m. Batang yang bebas cabang dapat mencapai antara 15-20 m bila dilakukan proses pemangkasan. Pohon jati yang tumbuh baik diameter batangnya dapat mencapai 220 cm. Kulit kayu jati berwarna kecoklat-coklatan atau abu-abu dan sifatnya mudah terkelupas. Pangkal batang berakar papan pendek dan dapat bercabang. Daun jati berbentuk opposite ( bentuk jantung membulat dengan ujung meruncing), berukuran panjang sekitar 20-50 cm dan lebar 15-40 cm, permukaan daun berbulu. Daun muda jati berwarna kecoklatan, sedangkan daun tua berwarna hijau keabu-abuan. Tanaman jati yang tumbuh di alam dapat mencapai diameter batang 220 m, namun umumnya jati dengan diameter 50 cm sudah di tebang karena tingginya akan permintaan terhadap kayu jati. Bentuk batang pohon jati tidak teratur serta mempunyai alur. Warna kayu teras (bagian tengah), coklat muda, coklat merah tua, atau merah coklat, sedangkan warna kayu gubal (bagian luar teras hingga kulit) putih kelabu kekuningan. Tekstur kayu agak kasar dan tidak rata. Arah serat kayu jati lurus dan agak terpadu. Permukaan kayu jati licin dan agak berminyak serta memiliki gambaran yang indah. Kambium jati memiliki sel-sel yang menghasilkan perpanjangan vertikal dan horizontal, dimulai berkembangnya inti sel berbentuk oval secara memanjang, kemudian akan membelah menjadi 2 sel dan demikian seterusnya. Pada sekitar bulan Juli-September (musim kemarau) tanaman akan mengalami gugur daun dan pada saat itu kambium akan tumbuh lebih sempit dari pertumbuhan musim penghujan. Daya risistensi yang tingi kayu jati terhadap serangan jamur dan rayap disebabkan karena zat extraktif tectoquinin 2- metiol antraqinon. Selain itu, kayu jati masih mengandung kandungan lain, seperti tripoliprena, penil naphtalhena, antraquinin dan komponen lain yang belum terditeksi. Kayu jati memiliki kadar selulosa 46,5 %, lignen 29,9%, pentosan 14,4%, abu 1,4%, dan silika 0,4%, serta nilai kalor 5,081 kal/gr. Kekuatan kayu sesuai uji terhadap rayap dan jamur tergolong kelas II. Dengan demikian, kayu jati dapat terserang rayap dengan kapasitas rendah pada kondisi kayu yang dipengaruhi oleh umur pohon, semakin tua umur kayu semakin sulit terserang rayap. Manfaat dari masing-masing bagian tubuh tanaman jati, yaitu:
1)      Kayu jati digunakan sebagai bahan baku furniture, bangunan dan kerajinan
2)      Kulit jati digunakan sebagai dinding rumah
3)      Getah jati dapat digunakan sebagai obat untuk penyakit tenggorokan
4)      Daun dapat digunakan sebagi obat kolera dan pembersih luka
5)      Abu pohon jati ditumbuk dengan daun jambu batu dapat menghentikan diare
6)      Daun muda dapat digunakan sebagai pewarna (warna merah)
7)      Daun jati dapat dimanfaatkan untuk pembungkus makanan dan berbagai peralatan karena lebar dan sebagainya.
Tanaman jati muda, batang berbentuk segi empat. Perubahan dari bentuk segi empat ke bentuk bulat umumnya terjadi pada umur 3-4 tahun. Di tanah yang subur, dengan penutupan tajuk cukup rapat menyebabkan pertumbuhan batang yang meninggi lebih dominan dan percabangannya dimulai pada ketinggian 18-20 m. Pohon jati memiliki daun yang kurang lebat tetapi karena daunnya yang lebar, tajuk memberi naungan yang lebat dan merata, bentuk tajuk tidak beraturan sampai bulat telur pada tegakan yang kurang rapat tinggi tajuk agak rendah, dahan jati umumnya bengkok dan memiliki banyak tangkai dengan ranting berbentuk penampang segi empat dan berbulu halus.
Perkembangan ilmu dan teknik budidaya tanaman, saat ini telah tersedia bahan tanaman jati hasil rekayasa teknis, baik melalui pengembangan benih dari pohon plus maupun teknologi kultur vegetatif. Hasilnya berupa klon atau kultivar tanaman jati dengan daur produksi ekonomis sekitar 15 tahun sehingga dalam kurun waktu relatif singkat dapat diperoleh nilai produksi yang cukup menjanjikan. Perbanyakan atau pengembangan secara kultur jaringan atau kultur tunas merupakan upaya pengembangan tanaman melalui pembiakan sel-sel meristematis dari jaringan tanaman, seperti pucuk/tunas, ujung akar, embrio benih, atau bunga.
Secara umum, produksi bibit melalui metode kultur jaringan memerlukan beberapa tahap, yaitu.
1.      penyediaan bahan tanaman (eksplan) dari induk terpilih,
2.      sterilisasi eksplan yang akan ditanam pada media inisiasi,
3.      penanaman pada media untuk penggandaan atau multiplikasi tunas,
4.      penanaman pada media untuk perakaran atau pembentukan planlet, dan
5.      aklimatisasi.
           Beberapa persyaratan pohon induk tanaman jati yaitu.
1.      Pohon memiliki kenampakan (performance) tumbuh yang baik, sehat, dan bertajuk rindang.
2.      Tinggi pohon bebas cabang minimal 4 meter.
3.      Tahan gangguan hama dan penyakit.
4.      Memiliki kematangan umur (maturasi) yang optimal (≥ 15 tahun).
5.      Berbuah sepanjang tahun dan memiliki kapasitas optimal
6.      Memiliki daya kecambah benih ≥ 80%.
          Sterilisasi bahan tanaman (eksplan) merupakan langkah awal yang cukup penting dan dapat menentukan keberhasilan penanaman secara in vitro. Eksplan yang akan ditanam pada media tumbuh harus bebas dari mikroorganisme kontaminan. Tahap sterilisasi sering menjadi kendala utama keberhasilan perbanyakan tanaman secara in vitro. Terlebih iklim tropis seperti Indonesia yang memungkinkan kontaminan seperti cendawan dan bakteri terus tumbuh sepanjang tahun. Untuk tanaman tertentu, sterilisasi sulit dilakukan karena kontaminan berada pada bagian internal dari jaringan tanaman. Sterilisasi eksplan biasanya dilakukan dengan cara merendam bahan tanaman dalam larutan kimia sistemik pada konsentrasi dan waktu perendaman tertentu, baik dengan menggunakan satu macam maupun dengan macam-macam sterilan. Bahan-bahan yang biasanya digunakan untuk sterilisasi antara lain alkohol, natrium hipoklorit (NaOCl), kalsium hipoklorit atau kaporit (CaOCl), sublimat (HgCl2), dan hidrogen peroksida (H2O2) ( Irwanto, 2006 ).
Tahap inisiasi, eksplan tanaman jati sering menunjukkan gejala pencoklata ( browning ) pada media di sekitar potongan eksplan. Keadaan ini disebabkan karena oksidasi dari senyawa fenolik yang dihasilkan jaringan tanaman jati terutama dari eksplan in vivo. Oksidasi senyawa fenolik tersebut dapat menghambat bahkan bersifat toksik bagi pertumbuhan eksplan. Keadaan ini merupakan masalah yang selalu dihadapi pada tahap awal penanaman eksplan yang berasal dari lapang atau kamar kaca ( Siregar, 2005 ) .
Berbagai cara untuk menanggulangi masalah pencoklatan telah dilakukan, misalnya dengan penggunaan bahan anti oksidan (seperti polivinyl pirolidone atau PVP pada konsentrasi 0,01-2% dan asam askorbik sebanyak 50-200 mg/l) baik sebelum eksplan ditanam pada media maupun penambahan bahan tersebut pada media kultur atau kombinasi keduanya. Pendekatan lain untuk menanggulangi masalah pencoklatan pada kultur tanaman jati, yaitu dengan subkultur atau transfer eksplan secara periodik dengan perlakuan waktu yang berbeda. Sumber eksplan yang digunakan berasal dari tanaman jati terpilih berumur 45 tahun ( Siregar, 2005 ).
Media tumbuh yang cocok merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan perbanyakan tanaman jati melalui kultur jaringan. Berbagai komposisi media tumbuh telah dikembang-kan. Dari sekian banyak komposisi media yang telah berkembang, media dasar Murashige dan Skoog (MS)  merupakan media dasar yang paling banyak digunakan, baik untuk tanaman herba maupun berkayu. Pada tahap induksi tunas tanaman jati, media MS merupakan media dasar yang paling banyak digunakan, selain itu modifikasi media MS juga banyak digunakan. Penambahan zat pengatur tumbuh pada media kultur merupakan kunci keberhasilan baik pada tahap induksi maupun elongasi tunas. Umumnya media yang digunakan pada tahap induksi tunas jati adalah media MS yang ditambah zat pengatur tumbuh golongan sitokinin seperti benzylaminopurine (BAP) atau furfurylaminopurine (kinetin) atau kombinasi keduanya dengan konsentrasi antara 0,1-1 mg/l. Media dasar MS ditambah kinetin 0,1 mg/l dan BAP 0,1 mg/l untuk menginduksi tunas adventif dari eksplan tanaman jati berupa tunas ujung dan batang satu buku. Media kultur dibuat padat dengan penambahan 8 g/l agar dan 20 g/l gula serta pH media 5,8 ( Siregar, 2005 ).
Eksplan yang digunakan pada tahap induksi dapat berupa tunas apikal atau tunas adventif yang berasal dari batang satu buku dengan ukuran 1-2 cm. Indikasi lain pada tahap induksi tunas yang dapat mempengaruhi kecepatan pertumbuhan pada tahap selanjutnya (tahap elongasi) adalah terbentuknya kalus kompak pada bagian dasar batang eksplan. Umur biakan pada tahap induksi tunas sekitar 3 minggu. Pada umur tersebut biakan sudah berada pada kondisi yang optimal untuk dipindahkan pada tahap elongasi.
Tahap elongasi atau pemanjangan tunas, biakan ditanam pada media dasar MS tanpa penambahan zat pengatur tumbuh atau dapat ditambahkan sitokinin dengan konsentrasi yang sangat rendah (0,01-0,05 mg/l) bahkan jika perlu dapat ditambah asam giberelik (GA3) dengan konsentrasi 0,1-1 mg/l untuk tujuan pemanjangan buku tanaman. Penambahan gula agar dan pH media sama seperti pada media untuk induksi tunas. Umur yang diperlukan pada tahap elongasi tunas hingga siap untuk dipanen atau digunakan untuk ditransfer kembali pada media induksi berkisar antara 2-4 minggu. Pada umur 3 minggu tunas dapat mencapai tinggi 5-8 cm dengan jumlah buku antara 3-5 dan siap untuk diaklimatisasi. Biakan biasanya disimpan pada kondisi ruangan suhu 25±2oC dengan periode terang (1000-3000 lux) selama 16 jam per hari ( Balai Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian, 2003 ).
Aklimatisasi dapat didefinisikan sebagai proses penyesuaian suatu organisme untuk beradaptasi pada lingkungan yang baru. Proses aklimatisasi sangat penting karena akan menentukan apakah tanaman yang berasal dari in vitro dapat beradaptasi atau tidak pada kondisi in vivo. Umumnya biakan hasil kultur jaringan yang akan diaklimatisasi harus berupa planlet artinya biakan harus mempunyai perakaran dan pertunasan yang proporsional. Akan tetapi pada perbanyakan tanaman jati melalui kultur jaringan, biakan yang akan diaklimatisasi berupa biakan tanpa akar (stek mikro). Induksi perakaran dilakukan pada saat aklimatisasi dengan terlebih dahulu merendam atau mencelupkan bagian dasar batang dalam larutan yang mengandung senyawa auksin seperti IBA dan NAA atau dengan Rooton F. Biakan yang berasal dari tahap elongasi yang akan diaklimatisasi dan diinduksi perakarannya harus terlebih dahulu dibuang bagian kalusnya dan dibersihkan pada air mengalir. Harus diperhatikan pula bahwa dalam proses aklimatisasi tunas jati memerlukan kelembaban yang cukup dan media tumbuh tidak terlalu basah. Media tumbuh yang digunakan dapat berupa campuran tanah + arang sekam (1 : 1) atau tanah + serbuk sabut kelapa (1 : 1) atau tanah + kompos halus (1 : 1) ( Balai Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian, 2003 ).
Media sebaiknya disterilisasi dahulu dengan pemanasan dan tekanan uap. Media yang telah disterilisasi dapat diletakkan dalam bak plastik atau bak semen yang ada di kamar kaca. Untuk menjaga kelembaban dilakukan penyungkupan dengan plastik, sedangkan untuk mempercepat pertumbuhan bibit, penyemprotan dengan pupuk daun seperti Hyponex, Bayfolan, dan Gandasil sangat dianjurkan pada umur 1 minggu satelah tanam. Aklimatisasi bibit jati di pesemaian disajikan pada. Umur bibit tanaman jati genjah hasil kultur jaringan yang cukup baik untuk dipindahkan ke lapang (bibit siap salur) berumur sekitar 3 bulan. Pada umur tersebut bibit jati genjah dapat mencapai tinggi sekitar 30-50 cm.
Referensi:
Balai Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian. 2003. Perbanyakan Bibit Jati Melalui Kultur Jaringan( on-line ).  http://www.google.co.id/search?hl=id&client=firefox-a&channel=s&q=perbanyakan+jati+%22perbanyakan+jati%22+filetype%3Apdf&btnG=Telusuri&meta=&aq=&oq=perbanyakan+jati+%22perkembangbiakan+jati%22+filetype%3Apdf . 11 Maret 2010. 
DEPTAN. 2007. Indeks Biologi Dan Pertanian Indonesia ( On-line ). http://www.litbang.deptan.go.id/regulasi/one/12/file/BAB-IV.pdf . 11 Maret 2010. 
Irwanto. 2006. Usaha Pengembangan Jati ( On-line ). http://saveforest.webs.com/jati.pdf  . 11 Maret 2010.
Siregar, Edy Batara Mulya. 2005. Potensi Budidaya Jati ( On-line ). http://library.usu.ac.id/download/fp/hutan-edi%20batara10.pdf . 11 Maret 2010.










Minggu, 18 September 2011

Anggrek tanah

Spathoglottis merupakan anggrek terestial yang memiliki spesies kurang lebih 40, yang tersebar luas dari Cina bagian selatan, india bagian selatan, Asia Tenggara, Australia, Samoa, sampai kepulauan pasifik. Dua puluh satu spesies terdapat di Papua Nugini, dan tujuh diantaranya bersifat indigenus di Filipina. Nama genetik Spathoglottis berasal dari bahasa Yunani; spathe berarti belati dan glossa atau glotta berarti lidah, mengacu pada karakteristik labellum dari genus. Nama spesifik plicata diperoleh dari penampilan atau lekukan daun yang plicated, suatu karakter botanik yang digambarkan sebagai plicate. Spathoglottis sp merupakan tanaman taman dan tanaman pot. Anggrek ini pernah dimanfaatkan sebagai bunga potong, tanaman hias taman, Spathoglottis sp ditanam secara massal di dalam bedengan sebagai tanaman pembatas atau tanaman tepi (Qodriyah, 2005). Spathoglottis sp pernah dimanfaatkan sebagai bunga potong andalan Singapura pada era 1930-1940-an. Di Indonesia, Spathoglottis sp dapat tumbuh di dataran rendah maupun  dataran tinggi, bergantung pada spesiesnya. S. plicata banyak dijumpai di dataran rendah dan sedang, sedangkan S. aurea dan S. afnis tumbuh baik di dataran tinggi.kualitas bunga (Qodriyah, 2005). 
Pemulia anggrek Spathoglottis, ada yang beranggapan bahwa kuntum bunga nomor ganjil (dihitung dari pangkal tangkai) paling baik untuk dijadikan induk betina, karena buahnya berbiji banyak dan fertil. Induk jantan dapat diambil dari kuntum sembarang. Prinsip persilangan anggrek sangat sederhana, yaitu dengan jalan mengambil polinia atau polinaria suatu jenis anggrek kemudian dimasukkan ke dalam stigma (lubang kecil) bunga anggrek lain yang telah masak (Sarwono, 2005).
Bunga anggrek sangat mudah bersilang, baik secara alami maupun buatan. Anggrek hasil persilangan buatan, dikenal dengan nama anggrek hibrid. Anggrek yang berasal dari alam disebut anggrek sepesies. Anggrek sepesies merupakan sumber genetik bagi pemulia untuk merakit varietas-varietas baru (Darmono, 2009).
Persilangan anggrek ada tiga macam, (Sarwono, 2005). Interspesifik Merupakan persilangan antara dua spesies dalam satu genus pada seksi yang berbeda. Misalnya, Dendrobium stratiotes x Dendrobium verratrifolium. Masing-masing dari seksi yang sama yaitu Ceratobium.
b.      Interseksionl. Merupakan persilangan antara dua spesies dalam satu genus, tetapi masih satu seksi. Contohnya, Dendrobium phalaenopsis (seksi Phalaenanthe) x Dendrobium stratiotes (seksi Ceratobium).
c.       Intergenerk. Merupakan persilangan antara dua atau lebih genus yang berbeda, tetapi masih dalam kerabat dekat. Hasil persilangan intergenik menghasilkan:
1)      Hibrid bigenik
Merupakan anggrek hasil persilangan antara dua genus yang berbeda. Contoh bigenik: Aranda (Arachnis x Vanda) x Ascxocenda (Ascocentrum x Vanda)
2)      Hibrid trigenik
Merupakan hasil persilangan antara tiga genus yang berbeda. Contoh anggrek hibrid trigenik adalah Mokara (Ascocentrum x Vanda x Arachnis)
3)      Hibrid tetragenik
Merupakan hasil persilangan antara empat genus yang berbeda. Contoh, Potinara (Brassovala x Laelia x Cattleya x Sophronitis)
Menurut Sarwono (2005), prinsip penyerbukan anggrek sangat sederhana, yaitu dengan jalan mengambil polen suatu jenis anggrek, kemudian dimasukkan ke dalam stigma (lubang kecil), bunga anggrek jenis lain yang telah masak. Teknik penyilangan bunga anggrek dapat dibedakan menjadi dua.
a.       Penyilangan anggrek berlempeng perekat
Lempeng perekat pada anggrek disebut juga discus viscidis atau polinaria. Anggrek yang tergolong memiliki lempeng perekat adalah aneka spesies dari genus Vanda dan Arachnis, serta Phalaenopsis amabilis. Teknik penyilangan pada anggrek ini adalah sebagai berikut.
1)      Sisipkan ujung tusuk gigi di bawah ujung operculum,
2)      Tarik ke atas ujung tusuk gigi, sehingga operculum lepas,
3)      Desak polinaria ke luar dari kepala sari sampai terlepas, dengan tusuk gigi,
4)      Polinaria yang terlepas menempel di ujung tusuk gigi,
5)      Polinaria diletakkan dengan hati-hati pada lubang stigma yang telah siap menerima polinaria.
b.      Penyilangan anggrek tak berlempeng perekat
Anggek yang tergolong tidak memiliki lempeng perekat adalah Dendrobium, Cattleya, dan Spathoglottis. Teknik penyilangan pada anggrek ini adalah sebagai berikut :
1)      Ujung tusuk gigi dipakai mengangkat operculum sampai lepas,
2)      Sehelai kertas dipegang di bawah ujung columna untuk menangkap massa polinia yang mungkin terjatuh,
3)      Ujung tusuk gigi dicelupkan ke dalam perekat (lendir) pada lubang stigma agar polinia melekat pada ujung tusuk gigi,
4)      Ujung tusuk gigi yang berperekat disentuhkan ke polinia agar melekat,
5)      Masukkan polinia pada ujung tusuk gigi pada lubang stigma, letakkan pada kiri-kanan lubang tersebut.
Persilangan dilakukan secara searah maupun dua arah (resiprok) antara bunga dengan jumlah kuntum banyak dan tangkai bunga sedang-panjang dengan tanaman bertangkai bunga pendek. Sebelum persilangan dilakukan pemilihan atau seleksi tetua jantan maupun betina, baik untuk tanaman pot, taman atau bunga potong (Qodriyah, 2005). 
Tetua yang berasal dari spesies memiliki karakter yang kuat pada saat disilangkan, sehingga warna bunga hasil persilangan akan cenderung mendominasi, dibandingkan dengan yang bukan spesies (hibrid). Anggrek hibrid (anggrek hasil persilangan) apabila diselfing, warna bunga menjadi pudar dan tidak cerah. Oleh karena itu, dalam melakukan persilangan lebih baik menggunakan tetua yang berasal dari spesies. 
Hibridisasi dinyatakan berhasil apabila dalam satu populasi persilangan muncul variasi seperti warna bunga, tinggi tanaman, atau bentuk tanaman dan semua itu dapat diketahui melalui karakterisasi hasil persilangan. Parameter yang diukur dalam karakterisasi adalah variasi warna bunga, panjang daun, lebar daun, pertambahan jumlah anakan, panjang bunga, panjang tangkai bunga, lebar bunga, panjang bibir, lebar bibir, dan jumlah kuntum tiap tangkai (Sarwono, 2005). Tanaman yang telah disilangkan selanjutnya diberi label tetua betina x tetua jantan, tanggal penyilangan, dan kode persilangan. Jangka waktu 3-4 hari bila tangkai kuntum induk betina masih segar berwarna kehijauan maka persilangan berhasil. Beberapa hari kemudian kelopak dan mahkota bunga mulai layu sampai akhirnya kering dan rontok. Selanjutnya muncul bakal buah berbentuk bulat telur berwarna hijau sampai hijau kecoklatan. Buah dipanen 25-65 hari setelah penyerbukan (Qodriyah, 2005). Biji hasil persilangan disebar dengan keadaan in-vitro. Hal ini, karena biji anggrek hanya memiliki sedikit endosperm sehingga tidak mencukupi untuk pertumbuhan. Di alam, biji anggrek dapat tumbuh karena bersimbiosis dengan mikoriza.